Warga Bersama Karang Taruna Desa Tamelang Protes di Depan PT Dean Shoes
![]() |
| Foto : Warga dan Karang Taruna desa Tamelang saat aksi damai di PT Dean Shoes |
Okejabar.com - Karawang | Di tengah derasnya arus investasi dan ekspansi kawasan industri di Kabupaten Karawang, suara kekecewaan warga Desa Tamelang, Kecamatan Purwasari, mulai menggema. Mereka mempertanyakan manfaat nyata dari keberadaan kawasan industri DIP (Dean Industrial Park) PT Dean Shoes yang dinilai belum memberikan dampak ekonomi yang adil bagi masyarakat sekitar.
Bagi warga Tamelang, persoalannya bukan soal menolak investasi. Mereka justru mendukung pertumbuhan industri.
Namun, di balik megahnya bangunan pabrik dan lalu lalang kendaraan industri setiap hari, muncul pertanyaan yang semakin sulit diabaikan, siapa sebenarnya yang menikmati hasil pertumbuhan ekonomi tersebut?
Ketua Karang Taruna Wiratama Cakra Mandala Desa Tamelang, Samsudin Setiawan, menegaskan bahwa masyarakat hanya menuntut keadilan dan kesempatan untuk ikut merasakan manfaat keberadaan kawasan industri yang beroperasi di lingkungan mereka.
"Kami ingin bersinergi dengan perusahaan, bukan menghambat investasi. Ada potensi ekonomi yang seharusnya bisa dirasakan bersama. Memang secara administratif kawasan itu berada di Desa Mekarjaya, tetapi akses utama dan dampaknya juga dirasakan warga Tamelang. Yang kami pertanyakan, kenapa tidak bisa berbagi dengan desa kami?" tegas Samsudin, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, keberadaan industri seharusnya tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi perusahaan dan investor, tetapi juga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.
Kekecewaan warga semakin memuncak setelah upaya audiensi yang dilakukan Karang Taruna Desa Tamelang tidak menghasilkan pertemuan dengan pihak pengelola kawasan industri.
Sekretaris Karang Taruna, Denis Alfian, menyebut audiensi tersebut merupakan langkah awal untuk membangun komunikasi dan mencari solusi bersama.
Namun harapan itu kandas karena pertemuan yang diharapkan tidak terlaksana.
"Kami datang dengan niat baik untuk berdialog dan mencari jalan keluar. Namun audiensi tidak terlaksana. Karena itu kami akan terus melakukan konsolidasi, termasuk dengan Karang Taruna Kabupaten Karawang, agar aspirasi masyarakat bisa diperjuangkan secara lebih luas," ujarnya.
Denis menegaskan bahwa pihaknya tetap mengedepankan dialog dan kemitraan sebagai jalan penyelesaian.
Hal senada disampaikan pengurus Karang Taruna Desa Tamelang, Jaja. Ia menilai selama ini terdapat hambatan komunikasi yang membuat masyarakat sulit menjalin hubungan langsung dengan pengelola kawasan.
Padahal, menurutnya, tujuan warga sederhana: membuka peluang kerja sama dan meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar mereka.
"Kami datang bukan untuk menekan atau membuat gaduh. Kami ingin membangun kemitraan dan membicarakan peluang bagi masyarakat sekitar. Tetapi selalu ada hambatan yang membuat komunikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya," kata Jaja.
Ia menyoroti fakta bahwa akses jalan di wilayah Desa Tamelang menjadi salah satu jalur yang digunakan menuju kawasan industri.
Aktivitas industri berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat, namun warga merasa belum mendapatkan manfaat yang sebanding.
"Masyarakat melihat kawasan industri terus berkembang, tetapi mereka merasa hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri," ujarnya.
Samsudin menegaskan bahwa aksi penyampaian aspirasi yang dilakukan warga merupakan akumulasi dari kekecewaan panjang setelah berbagai upaya komunikasi dan mediasi sebelumnya dinilai tidak membuahkan hasil.
"Kami tidak ingin mengganggu iklim investasi di Karawang. Namun ini adalah langkah terakhir setelah berbagai upaya komunikasi tidak mendapat respons yang diharapkan. Jika tidak ada langkah konkret, tentu kami akan mempertimbangkan langkah lanjutan," tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa potensi aksi yang lebih besar masih terbuka apabila ruang dialog tetap tertutup.
Menanggapi dinamika yang berkembang Kapolsek Purwasari Iptu Cahya Hardiansyah, SH, mengatakan pihak kepolisian telah memantau situasi dan menilai persoalan yang terjadi lebih mengarah pada masalah komunikasi serta komitmen pertemuan.
"Kami sudah melakukan monitoring. Pada prinsipnya ini lebih kepada persoalan komunikasi dan komitmen jadwal. Jika ingin bertemu atau menyampaikan sesuatu tentu harus melalui mekanisme yang disepakati bersama. Semua pihak perlu saling menghargai komitmen yang telah dibuat," jelasnya.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari nilai modal yang masuk atau jumlah pabrik yang berdiri. Keberhasilan sesungguhnya juga ditentukan oleh sejauh mana masyarakat sekitar ikut merasakan manfaat dari pertumbuhan tersebut.
Ketika kawasan industri terus berkembang di tengah lingkungan masyarakat, harapan warga sebenarnya sederhana: keterlibatan, kesempatan, dan keadilan ekonomi.
Kini sorotan publik tertuju pada pengelola kawasan DIP PT Dean Shoes. Akankah ruang dialog dibuka untuk menjawab kegelisahan warga Tamelang? Ataukah suara yang hari ini disampaikan melalui audiensi dan aksi damai akan berkembang menjadi gelombang tuntutan yang lebih besar?
• Surya

Posting Komentar