Kecelakaan Menimpa 3 Pelajar Perempuan, Direktur MKI Desak Pemkab Karawang Bangun Sistem Pencegahan Yang Nyata
![]() |
| Foto : Kecelakaan tiga pelajar perempuan di Purwasari. |
Nuansametro.com - Karawang | Kecelakaan yang menimpa tiga pelajar perempuan di depan Bulog Purwasari, Kabupaten Karawang, Kamis (8/10/2026) kembali menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar.
Direktur Mahar Kurnia Institute (MKI) , Mahar Kurnia, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mendesak Pemkab Karawang berhenti bersikap reaktif dan mulai membangun sistem pencegahan yang nyata.
Bukan Sekadar Nasib Buruk, Tapi Kegagalan Sistem
"Kalau pola berulang di tempat yang sama, ini bukan kebetulan, ini kegagalan sistem," tegas Mahar.
Kecelakaan tidak boleh dianggap selesai setelah ambulans pergi dan polisi selesai olah TKP. Pemerintah wajib menelusuri akar masalah: kondisi jalan, penerangan, rambu, pengawasan, hingga ketersediaan transportasi aman bagi pelajar.
Jangan Hanya Menyalahkan Pengendara Muda
Mahar mengingatkan, kecelakaan pelajar tidak bisa disederhanakan sebagai "kesalahan anak". Pertanyaan mendasar yang harus dijawab pemerintah: apa alternatif transportasi yang disediakan bagi mereka yang setiap hari harus berangkat dan pulang sekolah? Selama tidak ada pilihan aman, pelajar akan terus terpaksa menggunakan sepeda motor.
Patroli Harus di Titik Rawan, Bukan Sekadar Seremonial
Ia menyoroti efektivitas pengawasan lalu lintas. "Kalau ada titik yang berulang kali memakan korban, di situlah negara harus terlihat, bukan saat upacara atau kegiatan seremonial saja. Patroli harus berbasis data titik rawan dan jam rawan," ujarnya.
Bus Sekolah Bukan Mimpi, Tapi Kemauan Politik
Mahar mendesak Pemkab Karawang segera mengkaji penyediaan angkutan khusus pelajar. "Bukan soal tidak mampu, tapi prioritas.
Keselamatan anak-anak lebih penting daripada proyek mana pun. Jangan sampai kebijakan lahir hanya setelah nyawa dikorbankan," katanya tajam.
Minta Rapat Lintas Instansi, Hasil Nyata Tanpa Tunda
Pemerintah diminta segera menggelar rapat koordinasi lintas instansi, Pemkab, Polres, Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan, dan masyarakat yang menghasilkan peta titik rawan, jadwal pengawasan, serta rencana konkret transportasi pelajar. Bukan rapat untuk berdiskusi, tapi rapat untuk bertindak.
Jika Diam, Akan Dinaikkan ke Tingkat Lebih Tinggi
Mahar menegaskan tidak akan berhenti di sini. "Kalau tidak ada langkah konkret, kami akan bawa ini ke tingkat yang lebih tinggi. Bukan ancaman, tapi hak masyarakat, keselamatan tidak boleh ditawar," tegasnya.
Di Balik Setiap Angka, Ada Nyawa
"Tolong jangan jadikan kecelakaan pelajar sebagai statistik tahunan. Di balik setiap angka itu ada anak, ada orang tua, ada mimpi yang terhenti. Ukuran keberhasilan pemerintah bukan seberapa cepat menolong saat kecelakaan terjadi, tapi seberapa mampu mencegahnya terjadi lagi," pungkas Mahar.
• irfan

Posting Komentar